This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Kamis, 03 Desember 2015

Sejarah Instiper


Institut Pertanian Stiper (Instiper) Jogjakarta adalah satu-satunya perguruan tinggi terdepan di Indonesia yang berorientasi pada pengembangan perkebunan. Instiper didirikan pada tanggal 10 Desember 1958 oleh Yayasan Pendidikan Kader Perkebunan (YPKP). Pada awalnya Instiper bernama Sekolah Tinggi Perkebunan (STIPER). Pendiriannya didasarkan pada pertimbangan perlunya pemenuhan sumber daya manusia dalam bidang perkebunan yang pada masa itu. Hal ini terkait dengan pengalihan perkebunan-perkebunan milik Belanda yang dinasionalisasi. Tujuan pendirian Instiper adalah:

a.  Membentuk cendekiawan perkebunan, kehutanan, dan teknologi pertanian, bersendikan pada asas - asas manajemen perkebunan yang profesional serta memiliki tanggung jawab terhadap masa depan bangsa dan negara Republik Indonesia.

b.   Menyiapkan dan membentuk sarjana paripurna berkualitas, mempunyai keunggulan komparatif dan kompetitif dalam hal kemampuan akademik, ektrampilan, kepribadian, serta wawasan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan mampu mengembangkan kompetensinya secara mandiri.

c.  Membentuk pakar-pakar kewirausahaan di bidang perkebunan, kehutanan, dan teknologi pertanian.

Sesuai dengan PP no. 60 tahun 1990, jenjang pendidikan tinggi di Instiper adalah sarjana stratum satu (S-1) dan stratum dua (S-2). Pelaksanaan kuliah melalui Sistem Kredit Semester (SKS).

Standar Pemeliharaan Kelapa Sawit Paska TBM & TM

Pemeliharaan Tanaman Kelapa Sawit Paska TBM & TM
Pemeliharaan tanaman pada komoditas perkebunan yang bersifat tahunan, biasanya dikelompokkan ke dalam tanaman belum menghasilkan (immature) atau disingkat (TBM) dan tanaman menghasilkan (mature) disingkat (TM). TBM pada kelapa sawit adalah masa sebelum panen (dimulai dari saat tanam sampai panen pertama) yaitu berlangsung 30-36 bulan. Periode waktu TBM pada tanaman kelapa sawit terdiri dari :
TBM 0 :  menyatakan keadaan lahan sudah selesai dibuka, ditanami kacangan penutup tanah dan kelapa sawit sudah ditanam pada tiap titik pancang.
TBM 1 :  tanaman pada tahun ke I (0-12 bulan)
TBM 2 :  tanaman pada tahun ke II (13-24 bulan)
TBM 3 :  tanaman pada tahun ke III (25-30 atau 36 bulan)
Tujuan pemeliharaan TBM adalah untuk mendapatkan tanaman yang sama dalam hal pertumbuhannya, produktif dan berproduksi tinggi. Manfaat pemeliharaan TBM mengoptimalkan pertumbuhan vegetatif tanaman sawit sebagai penujang pertumbuhan generatif yang berproduksi tinggi.
Tujuan pemeliharaan TM adalah untuk mendapatkan produksi yang optimal dengan cara perawatan, seperti pemupukan, pengendalian hama dan penyakit serta lainnya. Manfaat pemeliharaan TM adalah untuk mengoptimalkan pertumbuhan generatif tanaman kelapa sawit supaya bisa berproduksi tinggi.
Kegiatan pemeliharaan tanaman kelapa sawit, sejak bibit sawit selesai ditanam di lahan sampai  tanaman mulai pertama kali berbunga yaitu:
A.  Konsolidasi (TBM)
Konsolidasi adalah pemeriksaan situasi blok demi blok yang sudah ditanam untuk melihat kekurangannya, kemudian memperbaikinya dengan cara menegakkan tanaman dan memadatkan tanah serta pelepah kering diputus atau dipotong. Sekaligus dilakukan inventarisasi tanaman dan permasalahan lainnya. Bibit yang mati, abnormal, tumbang, terserang berat hama atau penyakit harus disisip, teras yang rusak diperbaiki dan lain – lain. Konsolidasi dilakukan pada saat TBM 1.

B.  Sensus Pokok Kelapa Sawit (TBM)
Sensus terhadap pokok kelapa sawit perlu dilakukan untuk keperluan penyisipan/penggantian tanaman yang rusak/mati/terkena hama penyakit. Sensus dilakukan blok demi blok dengan cara jalur per jalur dan petugas sensus memberikan tanda pada setiap jalur dengan pancang yang diikat tali plastik sejumlah bibit yang akan disisip.
C.  Penyisipan / Penyulaman (TBM)
Tanaman yang mati, rusak berat, sakit dan abnormal perlu disisipi dengan segera. Penyisipan  adalah mengganti tanaman yang tidak normal dalam perkembangannya dengan tanaman yang baru. Makin cepat disisipi makin baik agar pertumbuhannya tidak ketinggalan dan sebaiknya digunakan bibit yang telah khusus disiapkan untuk sisipan. Makin lama dilakukan penyisipan maka biaya investasi akan meningkat karena pemeliharaan akan lebih lama. Penyisipan hanya dilakukan pada TBM 1 dan awal mula pada TBM 2 dan tidak dianjurkan untuk TBM 3. Bibit abnormal akan baru terlihat setelah 6 – 12 bulan ditanam dan harus diganti demikian pula dengan tanaman yang terserang landak, babi dan gajah.
Pelaksanaan penyisipan tanaman yaitu 3 – 6 bulan setelah tanam, sehingga dimungkinkan terjadinya keseragaman panen. Frekuensi waktu penyisipan tanaman dilakukan dengan ketentuan 2-4 rotasi per tahun selama 18 bulan sejak tanam. Cara penyisipan tanaman yaitu  tanaman yang mati  dicabut dan ditempatkan dalam gawangan. Kemudian penyisipan tanaman dilakukan dengan diawali pembuatan titik tanam. Penanaman dilakukan dengan mengikuti prosedur biasa, kecuali bibit yang digunakan bibit yang lebih besar (umur  ≥ 12 bulan) sehingga dimungkinkan dilakukan pemotongan pelepah bibit. Pupuk pada saat penyisipan tanaman, diberikan sebanyak 1,5 kali dosis pupuk  per lubangdari pada penanaman awal. Selanjutnya diperlakukan sama seperti pada tanaman lain di sekitarnya.
D.  Memelihara LCC (TBM)
LCC (Legume Cover Crop) walaupun sebenarnya saya lebih setuju menyebutnya LCP (Legium Cover Plant) karena karena Crop adalah kata yang berarti tanaman yang menghasilkan buah sementara kacangan dan sejenisnya hanya tanaman penutup saja (Plant). LCC/LCP merupakan tanaman penutup tanah dalam perkebunan kelapa sawit, pola tanam dapat monokultur ataupun tumpangsari. Tanaman penutup tanah (legume cover crop) pada areal tanaman kelapa sawit sangat penting karena dapat memperbaiki sifat-sifat fisika, menambah unsur N, kimia dan biologi tanah, mencegah erosi, mempertahankan kelembaban tanah dan menekan pertumbuhan tanaman pengganggu (gulma).
Penanaman tanaman kacang-kacangan sebaiknya dilaksanakan segera setelah persiapan lahan selesai.Untuk mendapatkan LCC yang murni diperlukan perawatan intensif selama enam bulan pertama. Dilapangan yang penulis temukan bahwa semua LCC yang digunakan di unit usaha rejosari adalah jenis mucuna, dengan sifatnya yang dapat tumbuh dengan cepat, dalam 1 hari mucuna mampu bertambah panjang 20 – 30 cm dengan masa hidup 2 tahun. Jenis – jenis LCC yang biasa digunakan pada perkebunan kelapa sawit diantaranya :
-    Centrosema pubescens
-    Pueraria javanica
-    Calopoginium mucunoides
E.   Pemeliharaan Piringan, Jalan Rintis, dan Gawangan (TBM & TM)
Piringan berfungsi sebagai tempat untuk menyebarkan pupuk. Selain itu, piringan juga merupakan daerah jatuhnya buah kelapa sawit.  Karena itu, kondisi piringan senantiasa bersih dari gangguan gulma. Pemeliharaan piringan dan gawangan bertujuan antara lain untuk:
1.    Mengurangi kompetisi gulma terhadap tanaman dalam penyerapan unsur hara, air,dan sinar matahari.
2.    Mempermudah pekerja untuk melakukan pemupukan dan kontrol di lapangan.
3.    Pemeliharaan piringan dan gawangan bebas dari gulma dapat dilakukan secara manual atau secara kimia. Pemeliharaan piringan dan gawangan secara manual yaitu tenaga manusia dengan menggunakan cangkul. Standar pembuatan dan pemeliharaan piringan dan jalan rintis dilakukan dengan cara:
a.    Piringan bebas dari gulma  sampai radius 30 cm di luar tajuk daun atau maksimal 180 cm dari pohon.
b.    Pembuatan jalan rintis dilakukan pada umur tanaman 1-12 bulan dengan perbandingan 1:8, dan waktu tanaman berumur lebih dari 12 bulan. Jalan rintis dibuat dengan perbandingan 1:2  dengan lebar 1,2 m.
c.    Perawatan jalan rintis/tengah dilakukan bersamaan dengan perawatan piringan.
1.    Penyiangan manual
Penyiangan manual dilakukan dengan cara menggaruk tumbuhan dalam diameter piringan dengan cangkul. Hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan ini adalah terjadinya cekungan yang dapat menampung air dan berakibat rusaknya tanaman. Untuk menghindari hal itu, penggarukan dilakukan dari arah luar lingkaran ke dalam (tanaman).
2.    Penyiangan kimia
Penyiangan kimia dapat dilakukan pada TBM III dengan rotasi 6 kali setahun dengan jenis herbisida sesuai dengan tumbuhan yang akan diberantas.
F.   Pemupukan (TBM & TM)
Perencanaan pemupukan tanaman kelapa sawit belum menghasilkan (TBM) & tanaman kelapa sawit menghasilkan (TM) dilakukan oleh Mandor besar (Mandor 1), Mandor pemupukan dan krani afdeling dengan berpedoman pada Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) dan RAB berdasarkan rekomendasi dari tim riset. Rencana pemupukan kelapa sawit (TBM & TM) meliputi:
·      Blok tanaman yang akan dipupuk
·      Jumlah kebutuhan pupuk per blok
·      Permintaan kendaraan
·      Tempat pengeceran pupuk
·      Jenis dan jumlah peralatan pemupukan
Perencanaan pelaksanaan pemupukan harus memperhatikan prinsip-prinsip yang telah ditetapkan. Rekomendasi pemupukan tanaman kelapa sawit didasarkan pada prinsip 4 T yaitu (tepat jenis, tepat dosis, tepat waktu, dan tepat cara). Dosis pupuk ditentukan berdasarkan umur tanaman,  hasil analisis daun & tanah (LSU &SSU) yang direkomendasi oleh tim R & D.
G.  Tunas Pasir/Kastrasi (TBM) & Pruning (TM)
Sebelum areal/blok masuk dalam kategori TM tidak diperbolehkan melakukan pekerjaan tunas apapun karena pada waktu tersebut jumlah pelepah belum optimum, sehingga pelepah produktif tidak boleh dibuang. Prinsip tunas pasir adalah hanya membuang pelepah yang berada satu lingkaran paling bawah (dekat tanah) dan pelepah kering artinya ini hanya untuk keperluan sanitasi/kebersihan pokok sekitar sawit.
Pekerjaan tunas pasir dilakukan dengan cara membuang pelepah satu lingkaran paling bawah (dekat tanah) dan juga pelepah kering. Dilakukan 6 bulan sebelum TM. Pelepah kering dipotong memakai dodos. Pelepah dipotong rapat ke pangkal dengan memakai dodos kecil (mata dodos 8 cm), kemudian pelepah-pelepah tersebut dikeluarkan dari piringan dan disusun di gawangan mati. Sesudah pekerjaan tunas pasir selesai, maka dilarang keras memotong/memangkas pelepah untuk tujuan apa pun, kecuali untuk analisis daun, ini pun hanya dibenarkan mengambil anak daunnya saja.
Kastrasi atau disebut juga ablasi merupakan pekerjaan penting pada kelapa sawit sebelum tanaman beralih dari TBM ke TM. Karena itu, sebelum melakukan kastrasi terlebih dahulu dilakukan monitoring pembungaan. Caranya yaitu mencatat pohon-pohon yang telah berbunga. Hasil catatan tersebut kemudian digambarkan pada peta sensus.
Tanaman kelapa sawit mulai mengeluarkan bunga setelah berumur 9 bulan, tergantung pertumbuhannya. Pada saat tersebut, bunga yang dihasilkan masih belum membentuk buah sempurna sampai tanaman berumur sekitar 24 bulan, sehingga tidak ekonomis untuk diolah. Oleh sebab itu, semua bunga maupun buah yang keluar sampai dengan umur 24 bulan perlu dibuang atau diablasi.
Ablasi merupakan aktivitas membuang semua produk generatif, yaitu bunga jantan, betina, dan seluruh buah (yang terlanjur jadi) guna mendukung pertumbuhan vegetatif kelapa sawit. Pelaksanaan ablasi terakhir dilakukan enam bulan sebelum pokok dipanen. Tujuan utama dilakukannya ablasi adalah mengalihkan nutrisi untuk produksi buah yang tidak ekonomis ke pertumbuhan vegetatif sehingga pokok sawit yang telah diablasi akan lebih kuat dan pertumbuhannya seragam. Dengan demikian, pertumbuhan buah akan lebih besar dan seragam, serta menghambat perkembangan hama dan penyakit.
Ablasi biasanya dilakukan pada umur 18 bulan sejak tanam di lapangan sampai dengan 24 bulan. Setelah itu, bunga betina yang keluar dibiarkan sehingga tanaman sudah dapat dipanen pada umur 30 bulan. Ablasi mulai dilaksanakan jika lebih dari 50% pokok kelapa sawit dalam satu blok telah mengeluarkan bunga jantan dan atau betina. Umumnya, ablasi mulai dilakukan saat tanaman berumur 18 bulan di lapangan. Pelaksanaan ablasi dilakukan setiap dua bulan sekali sampai tanaman berumur 24 bulan.
Pruning adalah proses dimana tanaman kelapa sawit dibuang pelepahnya dengan menggunakan dodos atau egrek. Pruning dilakukan pada TM guna untuk menjaga kelembaban serta alokasi fotosintat bisa fokus untuk organ generatif (produksi tinggi). Pruning dilakukan dengan membuang pelepah yang sudah tua atau inaktif, atau biasa disebut dengan songgoh dua yang artinya dua pelepah dibawah buah. Adapun beberapa perusahaan menetapkan sistem songgoh satu, dua maupun tiga.
H.  Pengendalian Hama dan Penyakit (TBM & TM)
Hama utama tanaman kelapa sawit belum menghasilkan adalah ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS) dan Oryctes rhinoceros yaitu hama penggerek pucuk (titik tumbuh) kelapa sawit. Pengendaliannya dilakukan secara manual, kimia dan hayati.
Penyakit yang banyak ditemui pada TBM adalah :
1.    Penyakit tajuk yang disebabkan faktor genetis dengan ciri-ciri adanya pembusukan berwarna coklat yang menyebar melalui bagian tengah dan menyebabkan anak daun terputus-putus.
2.    Penyakit busuk tandan yang disebabkan pathogen marasmius palmivorus. Ditandai dengan adanya miselia cendawan berwarna putih pada kulit buah dan tandan. Faktor yang mendorong timbulnya penyakit ini adalah kebersihan kebun, piringan pohon sempit/kecil, penunasan terlambat, defisiensi hara dan tingginya curah hujan.
3.    Penyakit busuk pangkal batang (BPB) yang disebabkan oleh jamur Ganoderma boninense. Penularan penyakit melalui pertautan antara akar sehat dan akar sakit, atau melalui spora yang disebarkan oleh angin. Gejala awal terlihat pada daun TBM mengalami clorosis yang berlanjut mengeringnya anak daun dan pelepah, serta terjadinya pembusukan pada jeringan pangkal batang dan akhirnya tanaman mati. Pengendalian hayati untuk Ganoderma dilakukan dengan pemberian Trichoderma spp. Penyakit ini juga banyak dijumpai pada tanaman menghasilkan (TM)
Adapun pula penyakit yang sering dijumpai pada tanaman kelapa sawit menghasilkan (TM), yaitu busuk pangkal batang yang disebabkan oleh jamur Ganoderma boninense, cara pengendaliannya yaitu dengan menggunakan agen hayati Trichoderma spp. Layu fusarium yang disebabkan jamur Fusarium oxysporum, cara pengendalian dengan agen hayati Trichoderma spp. Penyakit lain yang sering dijumpai pada TM yaitu gejala-gejala kahat hara.